Perutnya semakin membesar, namun Bu Ira tetap berdiri di perempatan jalan mengenakan kostum badut. Ia menari pelan dan melambaikan tangan ke pengendara, berharap ada yang memberi recehan. Penghasilannya tidak menentu, kadang hanya Rp10.000–20.000 sehari, bahkan sering pulang tanpa membawa uang sama sekali.

Suaminya juga bekerja sebagai badut pada shift malam hingga dini hari. Mereka bergantian di jalan agar bisa mengumpulkan cukup uang untuk bertahan hidup. Namun tetap saja belum cukup. Anak pertama mereka terpaksa putus sekolah karena biaya. Bu Ira pun belum pernah memeriksakan kandungannya ke bidan atau melakukan USG karena tidak ada dana.

Setiap malam ia pulang ke kamar kos berukuran 2x3 meter yang lembap dan bocor saat hujan. Sudah dua bulan mereka menunggak pembayaran. “Saya takut nanti diusir… terus harus tidur di mana?” ucap Bu Ira lirih. Bahkan untuk membeli susu ibu hamil pun ia sering mengurungkan niat karena uangnya hanya cukup untuk makan sekali.

Dalam kondisi hamil, Bu Ira tetap menahan lapar dan panasnya kostum demi recehan di jalan. Ia hanya ingin bayinya lahir dengan selamat dan keluarganya bisa hidup lebih layak.

#SahabatBaik, mari bantu ringankan perjuangan Bu Ira. Sedikit bantuan darimu hari ini bisa menjadi harapan agar ia dapat menjaga kandungannya dan tidak lagi berjuang sendirian.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa