“Sejak penglihatan saya hilang, rasanya semuanya gelap… tapi saya tetap harus kuat untuk Mbah Kakung,” ucap Mbah Paiyem (81 tahun), seorang istri yang tak pernah lelah merawat suaminya di rumah kecil di atas bukit.

Mbah Harto (86 tahun), atau yang biasa dipanggil Mbah Kakung, telah terbaring lemah sejak terserang stroke dua tahun lalu. Tubuhnya sulit digerakkan, bahkan untuk duduk pun membutuhkan bantuan.
Sebelum sakit dan sebelum penglihatan Mbah Paiyem hilang, keduanya biasa berjalan turun naik bukit untuk berjualan daun pisang ke pasar. Satu ikat daun pisang dijual seharga Rp7.000. Dari hasil sederhana itu, mereka menjalani hidup bersama di usia senja.

Namun keadaan berubah. Tiga tahun lalu, penglihatan Mbah Paiyem hilang akibat katarak. Sejak itu, aktivitas mereka semakin terbatas. Pasar yang dulu menjadi tempat mencari nafkah kini tak lagi bisa mereka datangi.
Untuk bertahan hidup, Mbah Paiyem hanya menunggu jika ada tetangga yang datang membeli daun pisang ke rumah, meski itu jarang terjadi. Saat beras habis, ia meraba jalan menuju kebun kecil di belakang rumah, mengambil singkong atau apa saja yang bisa dimakan, agar suaminya tetap bisa makan.

Selama setahun terakhir, kondisi Mbah Harto semakin menurun. Mbah Paiyem ingin memeriksakan suaminya, namun khawatir dengan biaya yang tidak mampu mereka tanggung.
“Saya buta, Mbah Kakung sakit… tapi selama kami masih punya napas, saya mau tetap menjaga dia,” ucap Mbah Paiyem pelan.
#SahabatBaik, Mari bersama membantu Mbah Paiyem dan Mbah Kakung, agar mereka tidak menjalani masa tua dalam keterbatasan dan kesendirian.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Sahabat Baik
9 jam yang lalucinta sejati....mungkin mbh kung sebelum stroke juga merawat mbk uty sepenuh hati juga Masyaallah
Hamba Allah
12 jam yang laluPjg umur dan shat slalu ya nek, kek🥺