Mungkin kalau aku normal, orang tuaku nggak akan meninggalkan aku...
Kalimat pilu itu terucap dari Slamet (17 tahun), seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental dan tuna wicara. Slamet dan kakaknya, Ana (24 tahun) yang menderita Cerebral Palsy, hidup bersama sang ayah, Pak Sugiono (69 tahun), di sebuah rumah sederhana.

Selama belasan tahun, aktivitas Ana hanya terbaring tak berdaya. Kedua kaki dan tangannya sangat kaku sehingga tidak bisa digerakkan. Slamet pun masih membutuhkan sosok ayah dalam setiap langkahnya. Seumur hidup mereka, keduanya membutuhkan pertolongan orang lain.

Namun, takdir berkata lain. Sang ibu pergi meninggalkan mereka tanpa pesan, meninggalkan luka mendalam di hati kedua anaknya. Rasa bingung, sedih, marah, dan sakit hati bercampur aduk.
Saya akan selalu ada untuk Slamet dan Ana, ucap Pak Sugiono, sang ayah tunggal yang tegar. Meski apapun yang terjadi dan kondisi sesulit apapun akan saya hadapi demi anak-anak saya.
Pak Sugiono bekerja keras berjualan sepeda bekas. Penghasilan saya tidak menentu, tergantung sepeda terjual atau tidak. Saya membeli sepeda bekas yang murah, yang sudah rusak atau kurang layak, lalu saya perbaiki dan saya jual lagi. Dibilang kurang, jelas kurang... tapi saya harus manfaatkan sebaik mungkin agar kedua anak saya tidak kelaparan, jelas Pak Sugiono.

Namun, hidup tak selalu mudah. Sempat satu minggu dagangan Pak Sugiono tidak laku sama sekali. Alhasil tidak ada uang untuk membeli sembako dan bahan pangan. Untuk makan saja harus berhutang ke warung, keluh Pak Sugiono.
Sempat satu minggu dagangan pak sugiono tidak laku sama sekali alhasil tidak ada uang untuk membeli sembako dan bahan pangan jadi untuk makan saja harus hutang ke warung samping rumah.

Dan miris nya tak ada MCK ataupun kamar mandi di rumah itu. Karena Tanah & Rumah yang mereka tempati sekarang itu dari hasil pemberian pihak desa setempat, jadi tidak ada air bersih untuk mereka setiap hari nya.. “Dan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi,mencuci baju, ataupun buang air besar mereka melakukan semua itu di sungai samping rumah nya dan air nya pun juga keruh”.
#OrangBaik, begitu berat usaha Pak Sugiono untuk membahagiakan anak-anak nya. Sekeras apapun perjuangan mereka, hasilnya tidak sebanding. Mungkinkah kita menjadi jawaban atas doa-doanya?Yuk, Bersama hadirkan kebahagiaan untuk keluarga Pak sugiono.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa