Di depan sebuah ruko buah di pinggir jalan, Pak Syamsul (56) berdiri dengan tongkat kayu di tangan kanannya. Langkahnya pelan, namun ia tetap menyapa para pengendara dengan senyum ramah.
Setiap pagi ia membantu mengatur kendaraan yang keluar masuk ruko, kadang sambil melempar guyonan kecil agar orang-orang di sekitarnya ikut tersenyum. Tak banyak yang tahu, di balik senyum itu ia sebenarnya menahan rasa sakit yang terus ia rasakan setiap hari.

Perjalanan hidup Pak Syamsul berubah sejak tahun 2019. Ia terjatuh di kamar mandi dan mengalami stroke yang membuat tangan serta kaki kanannya sulit digerakkan. Aktivitas yang dulu terasa mudah kini harus dilakukan dengan perlahan dan penuh perjuangan. Di saat kesehatannya menurun dan kondisi ekonomi keluarga memburuk, istri serta anaknya memilih meninggalkannya. Kejadian itu membuat Pak Syamsul sempat terpuruk dan mengalami depresi selama beberapa bulan.

Namun perlahan ia mencoba bangkit. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Pak Syamsul bekerja sebagai penjaga parkir di depan ruko buah. Setiap hari ia mulai bekerja dari pukul 07.00 hingga 12.00 siang. Ia tidak sanggup bekerja lebih lama karena kaki dan tangannya sering terasa sangat nyeri. Meski begitu, ia tetap bertahan di bawah panas matahari demi memenuhi kebutuhan hidup dan agar tidak merepotkan orang lain.

Setelah selesai bekerja, Pak Syamsul biasanya beristirahat di ruko kosong di dekat tempatnya berjaga. Ia duduk sambil memijat kaki yang terasa kaku dan nyeri. Kadang rasa sakit membuatnya hanya bisa terdiam lama, bahkan tertidur di lantai beralas kardus tipis sebelum pulang ke tempat tinggal sederhana yang ia tumpangi di kamar kecil milik penghuni kos.

Belakangan kondisi kesehatannya semakin menurun. Stroke yang ia alami menimbulkan komplikasi pada ginjal sehingga ia harus menjalani cuci darah setiap hari Rabu. Tubuhnya sering terasa lemas, tetapi ia tetap berusaha bekerja karena itu satu-satunya cara yang ia miliki untuk bertahan hidup.

Di tengah perjuangannya, Pak Syamsul juga pernah mendapat ancaman dari sesama tukang parkir yang menganggapnya mengambil tempat orang lain. Ia diminta menunjukkan KTP dan diusir dari lokasi tersebut. Meski hatinya sedih, ia memilih bersabar. “Biar Allah saja yang melihat, saya hanya ingin bekerja dengan cara yang halal,” ucapnya lirih.
Kini setiap langkah Pak Syamsul adalah bentuk perjuangan dan keteguhan hati. Meski tubuhnya rapuh dan hidup dalam kesepian, ia tetap berusaha berdiri dan bekerja. Baginya, selama masih bisa melangkah, berarti masih ada harapan untuk bertahan hidup.
#SahabatBaik, mari ringankan perjuangan Pak Syamsul agar ia bisa menjalani pengobatan dan hidup dengan lebih layak.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Sahabat Baik
3 jam yang lalusemoga bapak selalu dalam lindungan Allah SWT yaa pak sehat selalu pak
Amanda Bunga Ramadhani
11 jam yang laluSemoga bapak selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang lancar, aamiin allahumma aamiin.
Sahabat Baik
21 jam yang laluSemoga bapak sehat dan kelak Allah angkat derajatnya di dunia dan akhirat, diberi rejeki harta yg banyak dan ketaatan kepada Allah SWT yg meningkat, keluarga diutuhkan kembali
Sahabat Baik
21 jam yang laluSEMOGA MEMBANTU DAN BERKAH🙏