Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November tahun lalu meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Meski telah berlalu berbulan-bulan, sebagian warga terdampak masih harus menghadapi persoalan besar hingga hari ini: sulitnya mendapatkan air bersih.
Salah satunya dirasakan warga Rantau Bintang, wilayah yang berada di tengah perkebunan kelapa sawit dan cukup terpencil di Kabupaten Aceh Tamiang.

Akses menuju wilayah ini pun tidak mudah. Jembatan utama yang menghubungkan Rantau Bintang dengan Kuala Simpang masih terputus akibat banjir bandang. Warga harus menggunakan jembatan darurat yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua atau menyeberang menggunakan perahu dengan biaya Rp5.000 per motor untuk sekali menyeberang.
Namun, persoalan terbesar bukan hanya akses jalan.
Sumur-sumur warga yang sebelumnya menjadi sumber air telah tertimbun lumpur dan pipa-pipa mengalami kerusakan akibat banjir. Akibatnya, warga kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Dulu emang di sini kami ngambil air di kran sumur rumah, Pak. Tapi semenjak banjir itu habis karena pipa-pipa besarnya hancur.”
Kini, sekitar 35 warga di sebagian wilayah Rantau Bintang terpaksa mengandalkan air sungai yang keruh, kotor, bahkan berbau. Air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, mencuci, hingga memasak dan minum.
Untuk diminum, air sungai harus diendapkan terlebih dahulu selama berhari-hari kemudian dimasak.
“Kalau air untuk minum yang diambil dari sungai, kami endapkan dulu selama seminggu baru bisa digunakan untuk diminum setelah dimasak. Jadi nggak bisa langsung dipakai.”
Yang lebih mengkhawatirkan, sungai tersebut memiliki arus yang cukup deras dan dihuni berbagai hewan liar seperti ular, biawak, bahkan buaya.
Bagi warga, mengambil air bukan sekadar berjalan menuju sumber air. Mereka harus mempertaruhkan keselamatan demi memenuhi kebutuhan dasar setiap harinya.

Beberapa warga bahkan pernah mengalami kecelakaan ketika mengambil air atau mandi di sungai. Ada pula yang dilaporkan tenggelam hingga kehilangan nyawa.
“Sebenarnya tahu di sini banyak buaya, kami takut juga. Tapi karena sehari-harinya harus ke sini, ya kami beranikan diri.”
Kondisi ini membuat warga Rantau Bintang sangat membutuhkan solusi jangka panjang. Mereka berharap dapat memiliki sumber air bersih, pipanisasi yang mengalir hingga ke rumah-rumah warga, serta tempat penampungan air yang dapat digunakan bersama.

Jika fasilitas tersebut dapat diwujudkan, warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan hingga 4 kilometer hanya untuk mendapatkan air. Mereka juga tidak perlu terus mempertaruhkan keselamatan di sungai yang penuh risiko.
#TemanExplore, pernahkah kita membayangkan harus berjalan 4 kilometer hanya untuk mendapatkan air?
Bagi kita, air bersih mungkin hanya sejauh membuka keran. Namun bagi 35 warga Rantau Bintang, mendapatkan air bersih berarti perjalanan panjang, melewati akses yang sulit, bahkan harus berhadapan dengan sungai yang dihuni buaya.
#TemanExplore, yuk jadi bagian dari kebaikan yang mengalir hingga ke pelosok Aceh. Bersama, kita hadirkan sumur air bersih, pipanisasi hingga ke rumah warga, dan tempat penampungan air agar mereka tidak lagi mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mendapatkan air.
Karena satu sedekah dari #TemanExplore hari ini, insya Allah dapat menghadirkan manfaat untuk puluhan warga dan mengalir menjadi amal jariyah.
Mari alirkan kebaikan. Mari alirkan harapan. Mari bantu air bersih sampai ke Rantau Bintang.
Tidak perlu menunggu memiliki banyak. Karena setiap rupiah yang kita sisihkan dapat menjadi bagian dari hadirnya sumber kehidupan bagi mereka yang membutuhkan.
Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk pengeboran atau pembuatan sumur air bersih, pembangunan pipanisasi, serta pembangunan tempat penampungan air. Jika terdapat kelebihan dana, maka akan digunakan untuk program amal jariyah lainnya di bawah naungan Yayasan Jelajah Kebaikan Bumi.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa