“Kalau Kakek tidak jualan, mau makan apa lagi…” ucap Kakek Mukinah lirih.

Di usia sekitar 70 tahun, Kakek Mukinah masih harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Rambutnya yang memutih dan tubuhnya yang semakin ringkih menjadi saksi betapa berat perjalanan hidup yang ia jalani. Kini beliau hidup sebatang kara tanpa istri dan tanpa keluarga yang menopang kehidupannya.

Setiap hari, Kakek Mukinah berjualan kerupuk keliling dengan sisa tenaga yang dimiliki. Kerupuk yang dijual pun bukan miliknya sendiri, melainkan titipan orang lain yang memberinya sedikit keuntungan dari setiap penjualan. Untuk sampai ke lokasi berjualan, beliau biasanya diantar oleh pemilik kerupuk, lalu berjalan perlahan menyusuri keramaian membawa dagangannya di pundak.
Dengan pakaian sederhana dan tubuh renta, Kakek Mukinah tetap berjalan berkilo-kilo meter demi mencari pembeli. Namun dagangannya sering tidak habis terjual, bahkan terkadang tidak laku sama sekali. Saat tubuhnya tak lagi kuat menahan lelah, beliau hanya duduk di pinggir jalan atau trotoar untuk beristirahat sejenak sebelum kembali melangkah.

Kondisi kesehatannya pun memprihatinkan. Di bagian hidungnya terdapat luka yang belum sembuh dan masih tampak basah. Karena itu, beliau selalu memakai masker untuk menutupi wajahnya. Meski harus menahan sakit dan rasa malu, Kakek Mukinah tetap memilih berjualan daripada bergantung pada orang lain.
Di usia senjanya, beliau hanya ingin bisa bertahan hidup dengan tenang tanpa menjadi beban siapa pun. Namun kerasnya hidup membuat Kakek Mukinah harus terus berjuang seorang diri di jalanan.
#SahabatBaik, mari bantu ringankan perjuangan Kakek Mukinah agar beliau bisa hidup lebih layak di masa tuanya. Kebaikanmu hari ini sangat berarti untuk beliau.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa