Di balik riuh rendah kota di Sumatera Utara, terselip sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjuangan 70 lansia yang hidup dalam kegelapan. Inilah kisah dari Panti Lansia Tunanetra, tempat di mana mata lahir tak lagi berfungsi, namun mata hati terus merindu cahaya Ilahi.

Siang itu, udara terasa begitu menyesakkan di dalam sebuah ruangan sempit dengan dinding yang mulai mengelupas. Nenek Rusdiana (58 tahun), duduk bersimpuh di kursi dan meja yang sudah lapuk dan usang. Jemarinya yang gemetar meraba-raba lembaran kertas usang. Bukan kertas biasa, melainkan Al-Qur’an Braille yang titik-titiknya sudah mulai rata karena terlalu sering dibaca.

"Seringkali hurufnya sudah tak terasa lagi di ujung jari, Nak," bisiknya dengan suara serak. "Tapi Nenek ingin sekali khatam sebelum Allah memanggil pulang."
https://drive.google.com/file/d/1QqvApCCaS-aglKLULpl8dwCG0nLepJ7J/view?usp=drivesdk
(LINK VIDEO LANSIA TUNANETRA SEDANG MENGAJI)
Perjuangan Menuju Meja Mengaji
Setiap kali waktu mengaji tiba, suasana haru sekaligus memilukan menyelimuti panti ini. Tanpa tongkat jalan yang layak, para lansia ini harus meraba dinding, saling berpegangan satu sama lain, dan terkadang tersandung karena lantai yang retak dan tidak rata.
Fasilitas yang ada jauh dari kata layak:
Kursi & Meja yang sudah lapuk: Mereka mengaji dengan punggung membungkuk di kursi dan meja, memicu rasa nyeri sendi yang hebat bagi raga yang sudah renta.
Hawa Panas yang Menyesakkan: Ruangan tanpa pendingin udara (AC/Kipas) membuat mereka seringkali bermandi keringat, sesak napas di tengah lantunan ayat suci.
Atap yang Bocor: Jika hujan turun, kegiatan mengaji harus terhenti. Air hujan merembes, mengancam sisa-sisa lembaran Al-Qur'an Braille yang mereka miliki.
Mengapa Mereka Membutuhkan Kita?
Bagi mereka, mengaji bukan sekadar rutinitas. Itu adalah satu-satunya pegangan hidup di masa tua yang sunyi. Namun, semangat itu kini terbentur oleh keterbatasan fisik dan fasilitas.
Setiap rupiah yang Anda berikan adalah satu titik Braille yang mereka raba, satu langkah aman dengan tongkat baru, dan satu hembusan udara sejuk di tengah doa-doa tulus mereka.
Mari berdonasi sekarang. Berikan mereka kemuliaan di sisa usia.
Karena bagi mereka, kegelapan sesungguhnya bukanlah saat mata tak bisa melihat, melainkan saat mereka tak lagi mampu melantunkan ayat suci karena ketiadaan fasilitas.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Sahabat Baik
3 jam yang lalusemoga berkah