“Peyeknya, Nak… monggo dibeli…” ucap Mbah Dasirah pelan sambil menenteng dagangannya dari satu tempat ke tempat lain

Di usia yang sudah sangat renta, Mbah Dasirah masih harus berjualan peyek keliling demi bisa bertahan hidup. Setiap hari beliau berjalan menyusuri jalanan dengan langkah perlahan, menawarkan peyek yang ia titip jual. Bukan karena ingin mencari keuntungan besar, melainkan karena hanya itu yang masih bisa beliau lakukan untuk menyambung hidup.
Namun kondisi Mbah Dasirah semakin memprihatinkan. Matanya buram akibat katarak yang tak pernah mendapatkan pengobatan. Pendengarannya mulai melemah, bahkan ingatannya sering hilang timbul. Tak jarang beliau salah menyebut harga dagangan. Peyek yang seharusnya dijual Rp5.000, terkadang hanya disebut Rp500 karena beliau sudah kesulitan mengingat.

Keuntungan yang didapat pun sangat kecil. Dari satu bungkus peyek, Mbah hanya memperoleh sekitar Rp100. Uang sebanyak itu tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya berobat yang selama ini hanya menjadi harapan.
Meski tubuhnya semakin lemah, Mbah Dasirah tak pernah berhenti berjualan. Saat dagangan sepi, beliau tetap menunggu dengan sabar, bahkan sering tertidur di pinggir jalan karena kelelahan.
Untuk makan sehari-hari pun Mbah hidup serba kekurangan. Terkadang hanya nasi tanpa lauk, bahkan nasi yang hampir basi tetap beliau makan demi bertahan hidup.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa