“Kalau tidak jalan jualan, kami makan apa…” ucap Mbah Maskon pelan.

Di usia yang tak lagi muda, Mbah Maskon masih harus berjalan lebih dari 10 kilometer setiap hari demi mencari rezeki. Bersama istrinya, ia berjualan sukun rebus dari kampung ke kampung hingga ke pasar. Dengan langkah pelan dan tubuh yang semakin renta, mereka tetap bertahan karena hanya itu satu-satunya cara untuk hidup.

Setiap hari mereka memulai aktivitas sejak dini hari. Memasak dari jam 1 pagi, lalu berjalan jauh membawa dagangan. Lutut yang melemah, napas yang tersengal, dan tubuh yang sering gemetar tak menghentikan langkah mereka. Meski lelah, mereka terus berjalan karena kebutuhan hidup tidak bisa menunggu.

Mbah Maskon dan istrinya hidup berdua tanpa anak dan tanpa keluarga yang bisa membantu. Penghasilan mereka pun sangat minim, kadang hanya Rp10.000 hingga Rp20.000 sehari, yang bahkan hanya cukup untuk makan seadanya. Tak jarang dagangan tidak habis terjual, bahkan pernah dibawa orang tanpa dibayar. Uang hasil jerih payah pun pernah hilang karena tertipu.

Di usia senja yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, Mbah Maskon dan istrinya justru harus terus berjuang melawan lelah dan keterbatasan. Mereka hanya ingin bisa makan dan menjalani hari dengan tenang, tanpa harus berjalan sejauh itu setiap hari.
#SahabatBaik, mari ringankan langkah Mbah Maskon dan istrinya. Kebaikanmu hari ini sangat berarti untuk membantu mereka bertahan hidup.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa