“Nak, suami oma sudah meninggal… sekarang oma hidup sendiri. Mata oma sudah rabun, kadang malah ditipu orang.” ujar Oma Mbarsi.

Di usianya yang ke-83, Oma Mbarsi seharusnya bisa duduk tenang menikmati masa tua. Tapi kenyataannya berkata lain. 
Sejak suaminya meninggal, Oma hidup sebatang kara, tanpa anak, tanpa sanak saudara. Setiap pagi, dia memaksakan diri untuk berjualan serabi ketan di depan gereja kecil, hanya untuk bisa makan hari itu juga.

Serabi buatan oma dijual seharga Rp3.000 hingga Rp5.000. Tapi dalam sehari, seringkali hanya satu-dua yang terjual. Kadang bukannya untung, Oma malah rugi—karena penglihatannya yang kabur, bahkan ditipu oleh orang yang tak bertanggung jawab.

Pernah, seharian penuh berdiri dan menunggu pembeli, Oma hanya membawa pulang Rp2.000. Uang yang bahkan tak cukup untuk membeli sebungkus nasi. Meski tubuhnya renta dan sendirian di dunia ini, Oma Mbarsi tetap berusaha untuk tidak bergantung pada belas kasihan.
#SahabatBaik, Dengan donasi sekecil apa pun, kamu bisa membantu oma memenuhi kebutuhan hidup harian,

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa