“Kalau nggak narik becak, saya makan apa…” ucap Mbah Slamet (83) pelan.

Di usia yang sudah sangat renta, Mbah Slamet justru harus bertahan hidup di jalanan. Setiap malam, ia tidur di dalam becak tua yang sudah berkarat tanpa kasur, tanpa selimut, hanya beralaskan plastik lusuh untuk menahan dingin dan hujan.

Dulu, Mbah Slamet memiliki rumah sederhana dan hidup bersama istrinya. Namun saat sang istri sakit parah, ia menjual satu-satunya rumah demi biaya pengobatan. Sayangnya, istrinya tetap meninggal dunia. Sejak saat itu, Mbah Slamet kehilangan tempat tinggal dan harus hidup sendirian.

Setiap pagi, ia kembali mengayuh becaknya berkeliling kota mencari penumpang. Penghasilannya tidak menentu, kadang hanya satu penumpang, bahkan sering tidak ada sama sekali. Pernah dalam sehari ia hanya mendapatkan Rp10.000, yang langsung habis untuk makan.

Becak yang ia gunakan pun sudah sering rusak. Saat mogok, Mbah Slamet harus mendorongnya sendiri dengan tenaga yang tersisa, menahan sakit di punggung dan kakinya yang semakin lemah.


Di usia senjanya, Mbah Slamet hanya berharap bisa tetap bertahan hidup meski dalam keterbatasan.
#SahabatBaik, mari bantu Mbah Slamet agar bisa menjalani hari-harinya dengan lebih layak. Sedikit bantuanmu sangat berarti untuknya.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa