“Kalau saya berhenti jualan, istri saya makan apa…” ucap Mbah Parno (77) lirih.

Di usia senjanya, Mbah Parno masih harus berjuang mencari nafkah demi sang istri yang sering sakit-sakitan. Mereka tinggal berdua di rumah yang sangat memprihatinkan, ukurannya bahkan hanya sebesar kamar mandi. Tidak ada anak atau keluarga lain yang membantu, membuat keduanya harus bertahan sendiri dalam keterbatasan.

Dulu, Mbah Parno bekerja sebagai buruh tani. Dari pagi hingga sore ia menghabiskan tenaga di sawah demi mencukupi kebutuhan hidup. Namun kini tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Meski kondisi fisiknya melemah, ia tetap memaksakan diri berjualan di lampu merah karena itu satu-satunya cara agar mereka bisa makan.

Sementara itu, kondisi istrinya semakin mengkhawatirkan. Beliau sering sakit hingga pingsan, tetapi belum pernah diperiksakan ke dokter karena tidak ada biaya. Dengan hati berat, Mbah Parno harus meninggalkan istrinya beberapa jam setiap hari demi mencari sedikit penghasilan.

Sayangnya, dagangannya jarang laku. Dalam sehari terkadang hanya 1–2 botol yang terjual dengan keuntungan beberapa ribu rupiah saja. Tak sedikit pengendara yang menolak tawarannya. Namun Mbah Parno tetap bertahan, meski lelah dan lapar, demi bisa membawa pulang sesuatu untuk istrinya.

#SahabatBaik, mari bantu Mbah Parno dan istrinya agar bisa hidup lebih layak. Kebaikanmu hari ini sangat berarti untuk meringankan perjuangan mereka.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa