Di usia 73 tahun, Mbah Sidem masih berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan kacang. Setiap sore, beliau berjalan kaki sekitar 5 kilometer menuju perempatan pasar sambil membawa baskom berisi kacang yang telah beliau olah sendiri sejak subuh.
Perjalanan itu tidak mudah. Sesak napas, asam urat, dan pegal linu yang sudah lama diderita sering kali membuat langkah Mbah Sidem terhenti. Beliau harus menepi sejenak, menyandarkan tubuh dan mengatur napas sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di tempat berjualan, belum tentu dagangannya laku. Tak jarang kacang yang dibawa pulang kembali tanpa habis terjual. Jika sedang beruntung, hasil jualan hanya cukup untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan makan di hari berikutnya.
Mbah Sidem dan suaminya yang bekerja serabutan menjalani masa tua berdua. Tanpa anak yang menemani, mereka harus saling menguatkan untuk menghadapi kebutuhan sehari-hari.
Meski kondisi tubuh semakin terbatas, Mbah Sidem tetap memilih bekerja daripada meminta-minta. Beliau ingin mendapatkan rezeki dari hasil usaha sendiri, meski hanya sedikit demi sedikit.
#SahabatBaik, mari kita ringankan perjuangan Mbah Sidem.
Bantuan yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk membantu kebutuhan dasar Mbah Sidem dan suaminya, termasuk kebutuhan makan, pengobatan, serta bahan baku untuk usaha kacangnya agar beliau tetap bisa berjualan tanpa terlalu khawatir memikirkan hari esok.

Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa