Di usianya yang telah genap satu abad, Mbah Suwati harus menanggung beratnya jalan hidup seorang diri. Tanpa sanak saudara yang mendampingi, tubuh ringkihnya dipaksa terus melangkah hingga puluhan kilometer setiap petang demi menjajakan kacang rebus. Rasa nyeri akibat luka diabetes di kakinya sering kali ia abaikan, sebab kebutuhan membeli obat dan sesuap nasi jauh lebih mendesak untuk disambung.

Rintangan Mbah Suwati tak berhenti di jalanan yang dingin dan gulita. Sering kali usahanya terbentur sepinya pembeli hingga dagangan yang ia bawa pulang membusuk begitu saja. Saat tak ada pemasukan, ubi atau singkong rebus menjadi satu-satunya ganjalan perutnya. Bahkan tidak jarang ia terpaksa beristirahat berjualan selama beberapa hari hanya karena kehabisan modal untuk membeli bahan baku kembali.

Ketika gulita makin pekat dan ia kembali ke rumah lapuknya, rasa lelah itu tak lantas hilang. Bangunan sederhana tempatnya bernaung tak lagi mampu melindunginya dari cuaca ekstrim; angin malam berembus masuk lewat celah dinding, dan air hujan leluasa menembus atapnya yang bocor. Di dalam ruangan ringkih itulah Mbah Suwati menenangkan rasa sakit pada kakinya sambil merebahkan tubuh yang kian renta.

Meski cobaan yang dipikulnya begitu berat, Mbah Suwati tidak pernah membiarkan keputusasaan memadamkan semangatnya. Setiap senyuman yang ia lontarkan kepada pembeli adalah bukti ketabahan hatinya yang luar biasa. Ia percaya sepenuh hati bahwa Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuannya dan pintu-pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi siapa saja yang terus berikhtiar.

#SahabatBaik Mari wujudkan mimpi dan harapan mbah Suwati untuk bisa mengobati kaki dan hidup lebih layak
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Sahabat Baik
17 jam yang laluSemoga bermanfaat walaupun sedikit