“Sawo… sawo… mari dibeli, Mas… buat saya makan hari ini…” ucap Mbah Mujiyem (87) lirih.
Di usia yang sudah sangat renta, Mbah Mujiyem masih harus berjalan jauh menjajakan dagangannya.

Dengan tubuh yang bungkuk dan langkah tertatih, ia berkeliling membawa beberapa bungkus sawo yang dijual Rp10.000 per bungkus. Namun sering kali dagangannya tidak laku, hingga membusuk sebelum sempat terjual.
Saat tidak ada yang membeli, Mbah Mujiyem menahan lapar sambil terus berjalan. Untuk bertahan hidup, ia memungut buah mlinjo dari pekarangan orang, lalu merebusnya sebagai pengganjal perut. Bagi orang lain mungkin itu sederhana, tapi bagi Mbah itu adalah satu-satunya makanan yang bisa ia dapatkan hari itu.

Menjelang sore, ia masih melanjutkan langkahnya ke tempat pembuangan sampah. Di sana, Mbah Mujiyem mencari sisa-sisa nasi dari tumpukan sampah. Nasi itu ia kumpulkan, sebagian untuk dimakan, sebagian lagi untuk ayam-ayam kurus yang ia pelihara di rumah.
Tubuhnya yang semakin lemah sering tak kuat menahan lelah. Tak jarang ia tertidur di sekitar tumpukan sampah, beralaskan tanah, dengan karung di tangannya.

Kini ia tak lagi mampu memanggul beban berat, hanya bisa menyeret karung perlahan dengan sisa tenaga yang ada.
Di usia senja, Mbah Mujiyem masih harus berjuang sendiri demi bisa makan dan bertahan hidup.
#SahabatBaik, mari bantu Mbah Mujiyem agar bisa menjalani hari-harinya dengan lebih layak dan tidak lagi menahan lapar sendirian.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa