Setiap hari Mbah Pasirah (55) menjalani hidupnya sendirian di rumah kecil yang nyaris tak bisa disebut rumah. Lantainya masih tanah. Atapnya bolong, terbuka ke langit.
Saat hujan turun, air masuk tanpa ampun. Menggenang di seluruh ruangan. Tak ada sudut yang kering. Tak ada tempat aman untuk berteduh.
Di tengah genangan air, Mbah Pasirah hanya bisa duduk di lantai basah, tubuhnya menggigil. Dengan sebuah piring atom di tangannya, ia menguras air satu per satu. Sendirian. Tanpa bantuan siapa pun.
Untuk bertahan hidup, Mbah Pasirah mengandalkan pelepah atau gedebok pisang.
Setiap hari ia mengumpulkannya, lalu menjemurnya hingga kering sebelum dijual. Harganya hanya Rp3.000 per kilo itu pun kalau sudah benar-benar kering.
Saat musim hujan, gedebok tak kunjung kering. Kadang tiga hari. Kadang lebih dari seminggu.
Selama itu, tak ada penghasilan. Tak ada uang. Tak ada makanan.
Bukan karena tak punya anak. Anaknya ada. Sudah berkeluarga. Namun tak ada yang datang menjenguk. Tak ada yang bertanya apakah ibunya sudah makan hari ini.
Mbah Pasirah hidup sendiri. Terlupakan oleh keluarganya sendiri.
Menjalani hari demi hari dengan keterbatasan, kesepian, dan ketidakpastian.
Di balik senyap rumahnya yang bocor, ada seorang ibu yang masih berjuang bertahan meski tak lagi punya tempat bersandar.
#SahabatBaik, Mari kita ulurkan tangan untuk Mbah Pasirah.
Agar beliau bisa memiliki tempat tinggal yang layak, makanan yang cukup, dan kehidupan yang lebih manusiawi di sisa usianya.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa